Obat Baru Kikis Kecanduan Belanja

Posted By Rikaro.Ramadi Friday, March 22, 2013 7:59:43 AM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Friday, March 22, 2013 7:59:43 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436


VIVAlife - Ada kabar baik bagi para penggila belanja yang tak lagi mampu mengendalikan tindakan impulsif mereka. Sebuah obat yang sedianya dirancang untuk mengobati penyakit mental Alzheimer bisa membantu para shopaholic mengekang kebiasaan buruk mereka.

Dalam tes, para shopaholic yang telah minum obat  menghabiskan waktu belanja lebih sedikit dan megurangi jumlah uang yang akan dihambur-hamburkan untuk membeli barang.

Para pembeli impulsif umumnya memiliki kebiasaan yang sangat merugikan. Mereka bahkan sanggup berhutang dalam jumlah besar demi memperoleh barang yang diinginkan. Empat dari lima penderita shopaholic adalah wanita. Masalah yang dihadapi bukan hanya tak dapat menolak godaan untuk selalu berbelanja. Banyak yang membeli barang yang tidak mereka butuhkan atau tak mampu mereka beli.

Obat yang disebut memantine umumnya diresepkan untuk mencegah kerusakan pada pasien Alzheimer moderat hingga parah. Hasil uji klinis menunjukkan setelah delapan minggu, pria dan wanita shopaholic yang mengasup obat ini mengurangi waktu belanja dan jumlah uang yang dibelanjakan.
 
"Jam belanja dan jumlah uang yang dihabiskan menurun signifikan dan tanpa efek samping, "kata seorang tim psikiater dari University of Minnesota di Minneapolis.

Dari studi terhadap sembilan orang berusia 19-59 tahun, ahli menemukan, gangguan perilaku belanja kompulsif, akibat adanya "keasyikan tak masuk akal" lewat berbelanja. Hal ini mendorong terjadinya masalah dalam lingkungan sosial, pekerjaan hingga menyebabkan masalah finansial.

Menurut studi, pembelian kompulsif memengaruhi 5,8 persen orang dewasa. Mereka rata-rata menghabiskan 61 persen pendapatan untuk pembelian impulsif. Sebagian besar pada pakaian. Para shopaholik kerap merasakan gejala seperti kecemasan, depresi, stres karena belanja kompulsif.

Para peneliti mengatakan belanja impulsif sering dipicu oleh diskon, kebutuhan untuk mengesankan orang lain, keinginan "wajib" memiliki suatu barang, dan citra tubuh.

Bahan kimia dalam obat dalam mentamin diklaim memengaruhi pengembangan demensia dan dapat memainkan beberapa dalam gangguan kompulsif. "Temuan kami menunjukkan bahwa manipulasi farmakologis dari sistem glutamat dapat menargetkan perilaku impulsif yang mendasari pembelian kompulsif," kata para peneliti dan psikolog Dr Cecilia D'Felice kepada Dailymail.

Pada stadium lanjut, bahan kimia ini memengaruhi otak. Orang-orang yang kecanduan belanja memerlukan keteraturan dengan mengubah sup kimia otak menjadi lebih teratur. (ren)

Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Friday, March 22, 2013 4:24:55 PM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top