Apakah Anda Termasuk Pasangan 'Jadul'?

Posted By Rikaro.Ramadi Saturday, March 23, 2013 10:32:26 AM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Saturday, March 23, 2013 10:32:26 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436


Banyak orang bilang, bila ingin memiliki perkawinan langgeng, ada aturan mainnya! Tapi, seiring waktu, banyak aturan berlaku di masa generasi orang tua kita yang sudah ‘basi’ alias ketinggalan zaman. Nah, agar Anda dan suami tidak tergolong dalam pasangan ketinggalan zaman, ikuti aturan perkawinan yang makin modern ini.

Dulu: pergi ke mana-mana selalu bersama suami
Sekarang: sesekali pergi tanpa ’dikawal’ suami.


Datang sendirian ke acara kumpul-kumpul bareng teman, bukan berarti Anda dan suami sedang cekcok. Ada kalanya Anda dan suami butuh ruang sendiri. Jadi, ke mana-mana tak perlu selalu didampingi suami.

Kebersamaan konstan sebenarnya tidak menyehatkan bagi perkawinan. Gaya perkawinan seperti itu bisa mengungkung dunia Anda.

Memiliki teman di luar lingkaran ’rumah’ tidak hanya membuat wawasan Anda lebih luas, tapi juga kaya pengalaman. Hal ini bisa membuat hidup lebih menarik. Otomatis, membantu Anda menjadi wanita  menarik di mata suami.  

Namun, Anda dan suami juga jangan sampai kehilangan kebersamaan. Jika Anda lebih mengenal kehidupan teman-teman dibandingkan pasangan, sebaiknya tingkatkan kembali porsi  berkomunikasi dengan suami.

Dulu: berkonsultasi dengan psikiater, bila ada masalah besar.
Sekarang: cari bantuan sebelum muncul masalah.

Banyak pasangan suami istri yang baru merasa membutuhkan bantuan profesional, ketika sudah terjadi guncangan dalam perkawinan. Akibatnya, saking beratnya masalah, seringkali perkawinan tidak bisa lagi diselamatkan. Tahukah Anda, gaya menyelesaikan masalah seperti itu sudah ’basi’?

Yang semestinya Anda berdua lakukan adalah mencari bantuan profesional sebelum konflik muncul. Tak perlu langsung berkunjung ke psikiater, Anda berdua bisa belajar mengatasi problem melalui workshop atau seminar untuk pasangan. Ajang seperti ini banyak digelar di akhir pekan. Menurut John Gottman, Ph.D., penulis Seven Principles for Making Marriage Work, menghadiri workshop perkawinan dapat melatih kemampuan pasangan mengatasi konflik.

Dulu: tugas domestik, tugas istri
Sekarang: berbagi tugas rumah dengan suami


Saat ini, sudah banyak suami yang mau berkontribusi dalam tugas-tugas domestik. Agar sama-sama nyaman menyelesaikan tugas rumah, lakukan secara fleksibel. Bila tugas kantor sedang menumpuk di malam hari, Anda bisa meminta bantuan suami mengurus anak. Begitu pula sebaliknya. Dengan begitu, Anda dan suami bisa membagi tugas antara tugas kantor dan mengurus rumah, serta anak.

Jika Anda tak sempat masak, tidak perlu dipaksakan. Anda dapat memesan makanan restoran, atau, berlangganan catering. Bingung melihat tumpukan baju kotor? Anda bisa mengirim baju kotor ke jasa binatu. Dengan begitu hidup Anda dan suami bisa lebih simpel.

Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Saturday, March 23, 2013 3:22:24 PM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top