Bahagia di Pernikahan Kedua

Posted By Rikaro.Ramadi Saturday, March 23, 2013 10:38:49 AM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Saturday, March 23, 2013 10:38:49 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436


Merasa trauma menikah lagi setelah bercerai memang wajar. Tak bisa dipungkiri, tidak mudah memulai untuk kedua kali. Apalagi saat menjalani pernikahan sebelumnya, Anda merasa seperti di dalam ‘neraka’. Tapi, menurut Barbara De Angelis, PhD, pakar perkawinan dari Los Angeles, AS, tidak sulit pula meraih peluang kebahagiaan di perkawinan. Yang penting, antisipasi tantangan yang dihadapi di pernikahan Anda selanjutnya.

Umumnya, wanita bercerai karena apa yang didapatnya dari perkawinan tidak sesuai dengan harapannya semula. Bila harapan tak jelas, maka peluang untuk merasa salah pilih atau kecewa lagi pada perkawinan kedua menjadi sangat besar. Nah, sebelum bersanding di pelaminan kedua kalinya, apa saja yang harus dipertimbangkan?
   
Bicarakan anak dari awal
Mencari pengganti ayah bagi anak, tak dapat dijadikan alasan untuk menikah lagi oleh wanita bercerai. Soalnya, “Istilah ‘mantan suami’ itu ada, tapi istilah ‘mantan ayah’ tak ada..

Mungkin bila suami pertama sudah tiada, masalah anak tidak akan begitu rumit bagi perkawinan kedua. Tapi situasinya beda bila  ayah si anak masih hidup. Misalnya, yang meski sudah merelakan hak perwalian anak mereka pada sang ibu, masih ingin menggunakan haknya untuk bertemu rutin dengan anaknya   

Sebelum muncul masalah, sebaiknya bicarakan dari awal semua hal tentang anak, mulai soal-soal sekarang, sampai yang akan datang.     Tidak hanya soal yang di depan mata, seperti jadwal pertemuan dengan si ayah atau si ibu kandung, tetapi juga soal yang akan datang. Misalnya,  yang menyangkut perwalian bila si anak akan menikah (bila si anak adalah perempuan). Meski waktunya masih panjang, dalam hal ini, sebaiknya tidak membuka kemungkinan yang tidak menguntungkan untuk semua pihak kelak.

Mantan: beri batasan
Untuk mengatasi sandungan dengan mantan, Anda dan calon suami harus bisa bersikap terbuka. Jangan ragukan dia. Jangan sembunyikan apa pun darinya. Mulai soal anak, uang, peran Anda dalam keluarga, sampai soal yang menyangkut mantan suami Anda sendiri

Agar mantan tidak terlalu mencampuri perkawinan kedua Anda, beri batasan tegas padanya. Ungkapkan padanya bahwa hanya urusan anak yang masih bisa didiskusikan dengannya. Jangan sampai mantan ‘meracuni’ pernikahan Anda.

Berbagi Harapan
Bagi mereka yang sudah memasuki perkawinan keduanya, Barbara berpesan agar tidak memancang harapan terlalu tinggi. Sadarilah Anda berdua sudah bekerja keras untuk sampai pada perkawinan kedua. Maka, sebelum berharap dapat ‘mendaki gunung’, cobalah rehat sejenak untuk merasakan nyamannya berdua lagi, dengan berjalan pelan-pelan dulu. Sedangkan adanya ketakutan dan kecemasan gagal lagi, wajar-wajar saja asalkan proporsional.

Selain itu, cobalah berbagi harapan dengan calon suami. Plus, ungkapkan padanya cara Anda menghada[pi masalah. Dengan begitu, dia bisa mengenal Anda lebih dalam, atau malah Anda berdua menemukan aturan baru menangani konflik di masa depan.

Rikaro.Ramadi
 Posted Saturday, March 23, 2013 3:35:16 PM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top