Hati-hati, Si Kecil Pun Bisa Stres

Posted By Rikaro.Ramadi Monday, March 25, 2013 5:54:32 AM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Monday, March 25, 2013 5:54:32 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436


VIVAnews - Perilaku buah hati belakangan ini berubah, sering murung dan uring-uringan? Hati-hati, ada kemungkinan si kecil sedang dilanda stres. Menurut Fabiola Priscilla Setiawan, psikolog anak dari Jagadnita Counsulting, Faktor lingkungan bisa dibilang paling berperan. Tuntutan lingkungan yang berat dapat menjadi biang keladi anak mengalami stres.

Misalnya, di sekolah ia dituntut untuk selalu menjadi nomor satu. Atau, si kecil mengalami perbuatan bully dari teman-temannya. Atau, di rumah pola asuh orang tua keras. Bila sang ibu sering membentak, membuatnya tak berdaya. Sehingga mampu menggoyahkan daya tahannya terhadap stres.

Masalahnya, stres pada anak sebelumnya tidak terlalu dikenali dan biasanya dianggap sebagai gangguan mood yang normal pada fase perkembangan. Jangan disepelekan, kondisi stres ini jika tidak segera ditangani bisa berujung pada depresi yang bisa menyebabkan anak ingin menyakiti diri sendiri. Apa saja tanda-tandanya?


- Murung, dan sering menangis, mudah marah
- Terlihat lelah dan tidak ada motivasi
- Tidak lagi menjalani aktivitas kesukaannnya. Misalnya, dulu ia senang main bola. Tapi, setelah beberapa minggu, ia enggan menjalani kegiatan itu.
- Perubahan kebiasaan makan dan tidur (adanya kenaikan atau penurunan berat tubuh yang terlihat jelas, dan sulit tidur)
- Keluhan yang sangat sering mengenai masalah fisik, seperti sakit perut atau pusing
- Sulit berkonsentrasi dan sering lupa


Jika lima dari tanda-tanda di atas dialami buah hati Anda, sebaiknya jangan disepelekan. Terutama jika kondisi ini sudah dialami si kecil selama lebih dari dua minggu berturut-turut. 

Jika sudah muncul tanda-tanda, jangan langsung membawa si kecil ke psikiater. Anda bisa mencoba mendekatinya terlebih dulu. Kuncinya adalah mengenal karakter anak Anda. Langkah-langkahnya:

1. Ajak bicara.
Cari momen yang dapat membuat Anda dan si kecil santai. Misalnya, di akhir pekan. Ajak dia menjalani aktivitas favoritnya. Misalnya, berenang atau membeli buku. Bila dia terlihat santai, tanyakan apa yang membuatnya berubah. Biasanya dalam kondisi relaks, anak lebih terbuka. Tapi, ketika dia tak juga menjawab sebaiknya jangan dipaksa.

2. Ajarkan memecahkan masalah
Ketika si kecil mulai terbuka, Anda bisa membantunya memecahkan solusi. Misalnya, dia takut pada teman-temannya. Ajarkan padanya untuk berbicara baik-baik dengan teman-teman. Tapi, jika tidak bisa, mintalah si kecil untuk berani bilang kondisi ini pada gurunya.

Yang perlu disadari, jangan melulu memberikannya solusi. Sebelumnya, tanyakan padanya apa yang akan dilakukannya bila menghadapi masalah. Jika jawabannya cukup baik, Anda bisa memujinya. Hal ini bisa meningkatkan rasa percaya dirinya, dan kemandiriannya.

Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Monday, March 25, 2013 11:39:06 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top