Perlukah Sikap Pesimistis Dalam Pernikahan

Posted By Rikaro.Ramadi Wednesday, March 27, 2013 10:22:39 PM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Wednesday, March 27, 2013 10:22:39 PM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436


Selama ini nasihat pernikahan selalu berisi tentang sikap optimis terhadap pasangan. Mulai dari sabar, berpikiran positif dan masih banyak lagi. Tetapi, hal itu berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan James McNulty dari  University of Tennessee, Amerika Serikat.

Dari hasil penelitiannya pasangan yang memaksakan diri untuk tetap optimis dalam pernikahan yang tidak harmonis lebih mungkin menghancurkan hubungan daripada menyelamatkannya.

Kita selalu diberitahu untuk bersabar, memaafkan dan melupakan jika pasangan melakukan kesalahan. Tetapi, bagaimana jika kunci untuk sebuah hubungan jujur terletak dalam 'dosis' pesimistis yang sehat. Statistik menunjukkan hampir dari setengah pasangan yang melakukan terapi gagal menyelesaikan permasalahan mereka, khususnya yang datang setelah hubungan sudah sangat berantakan.

McNulty, seorang ilmuwan psikologis, mempelajari 82 pasangan pengantin baru selama empat tahun pertama perkawinan mereka. Ia menemukan sikap optimistis hanya 'terbayarkan' saat mimpi dan harapan pasangan menjadi kenyataan. Namun, ketika pasangan pengantin baru mengalami banyak hal tetapi harapan tinggi tak terwujud, mereka mengalami kekecewaan yang ekstrem dan sering tidak rasional.

Akibatnya, McNulty mengatakan pasangan bersikap lebih pesimistis untuk mengalami keberhasilan dan kepuasan dalam jangka panjang. Sehingga harapan yang muncul kembali tidak terlalu tinggi. Penelitian ini juga menemukan, menyembunyikan kelemahan karakter pasangan dapat menyebabkan masalah jangka panjang dan berkembang menjadi dilema yang lebih serius.

McNulty menemukan, memelihara sikap negatif dan sikap tanpa kompromi dalam dalam porsi kecil ketika berdiskusi atau argumen, mungkin merupakan taktik efektif untuk mempengaruhi mitra berubah dengan caranya. Hal itu mempersiapkan jalan bagi pernikahan yang lebih kuat.

Bahkan, kesediaan untuk memaafkan tidak selalu tulus dalam pernikahan. Faktanya, meminta maaf hanya efektif sekali saja. Sebagian besar waktu, memaafkan hanya mengarah ke pengulangan pelanggaran yang dilakukan. McNulty mengungkapkan, pasangan yang bertahan pada argumennya dan menolak untuk mengampuni kesalahan besar pasangannya, lebih mungkin mendapatkan hasil yang mereka inginkan.

Namun demikian, efektivitas dari sikap negatif hanya satu pengecualian yaitu sarkasme. Membuat komentar sinis untuk mencegah membahas masalah secara langsung pada umumnya mengarah ke gagalnya pernikahan.

Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Thursday, March 28, 2013 5:55:58 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top