Empat Mitos Perceraian

Posted By Rikaro.Ramadi Wednesday, March 27, 2013 11:56:02 PM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Wednesday, March 27, 2013 11:56:02 PM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436


Sebagian pasangan menganggap perceraian sebagai jalan keluar terbaik atas masalah rumah tangga yang terus memburuk. Tapi, keputusan berpisah itu tak bisa dilakukan dengan gegabah. Perlu pemikiran matang.

Sebelum mengambil keputusan final, simak beberapa mitos tentang perceraian berikut ini, seperti dikutip dari laman Shine.

1. Butuh biaya mahal
Banyak pasangan memikirkan biaya perceraian yang mahal, setidaknya untuk membayar pengacara. Itulah mengapa selalu disarankan untuk mengedepankan penyelesaian kekeluargaan. Kalaupun perceraian sudah menjadi pilihan, jalan kekeluargaan tetap diperlukan untuk meniadakan jasa pengacara. Jika pasangan sudah memiliki kesepakatan kompak di luar pengadilan, biaya pun relatif lebih kecil.

2. Psikologis anak terganggu
Banyak pasangan bertahan dalam rumah tangga buruk dengan alasan demi kebahagiaan anak. Padahal, lingkungan rumah tangga yang buruk justru akan memengaruhi psikologis anak. Ada penelitian menunjukkan bahwa anak yang tinggal di lingkungan penuh luapan emosi orangtua akan terganggu mentalnya.

Jika usaha mengembalikan keharmonisan rumah tangga sudah maksimal, memang sebaiknya tak memaksakan kondisi. Jangan sampai pertengkaran orangtua tanpa henti mengganggu psikologis anak. Ketika Anda mengalami situasi 'panas' dengan suami tanpa henti, Anda harus segera mencari solusi untuk membebaskan anak dari situasi rumah tangga yang kacau. Kadangkala, perpisahan justru lebih baik untuk anak.

3. Mudah bercerai jika tak punya anak
Seringkali, memiliki anak membuat proses perceraian menjadi rumit, karena perlu mengurus hak asuh anak. Tapi, bukan berarti pernikahan tanpa anak lebih mudah melalui proses perceraian. Berpikir matang sebelum memutuskan perceraian tetap penting.

4. Silaturahmi dengan mantan pasangan putus
Perceraian mungkin akan membuat hubungan antarkeluarga menjadi canggung. Meski tak semua perceraian merusak silaturahmi, namun, sebagian besar mengalami ini. Yang pasti, dinamika hubungan Anda pasti akan berubah. (pet)

Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Thursday, March 28, 2013 4:05:19 PM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top