Benarkah Anak Korban Cerai Sial dalam Karier

Posted By Rikaro.Ramadi Friday, March 29, 2013 4:27:41 AM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Friday, March 29, 2013 4:27:41 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436


Perceraian tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi pasangan suami istri yang mengalaminya, tetapi juga menimbulkan trauma bagi anak-anak mereka. Bahkan, trauma yang dialami anak, akan sulit hilang.

Menurut penelitian, anak-anak korban perceraian orangtua memang akan biasanya tetap terlihat sehat secara fisik maupun mental. Tapi, sebenarnya mereka mengalami luka yang mendalam sampai menginjak dewasa.

Masalah psikologi yang terjadi di masa kanak-kanak memiliki dampak jangka panjang dibandingkan kondisi fisik seseorang. Misalnya, orang yang memiliki keterbatasan berbicara, mereka tetap dapat melanjutkan hidup karena sudah terbiasa menjalankan hidup dalam keterbatasan.

Sedangkan orang dengan trauma masa kecil, tanpa sadar menjalankan kehidupan dibayangi ketakutan. Keadaan itu akan berpengaruh pada karier mereka.


Tercatat pada sebuah penelitian, pendapatan mereka lebih kecil 30% dari orang-orang yang berasal dari keluarga bahagia. Perhitungan ini diambil dari total pendapatan keluarga, termasuk pendapatan dari pasangannya, dan dijumlah setelah pajak.

Penelitian yang dilakukan oleh the Institute for Fiscal Studies and the Rand Corporation ini peneliti 17.634 responden yang lahir pada minggu pertama bulan Maret 1958. Penelitian tersebut melihat masa kecil mereka, latar belakang orang tua, dan ahli jiwa.

Responden diklasifikasikan berdasarkan mereka yang memiliki trauma masa kecil dan sempat bertemu dengan dokter jiwa sebelum usia 16 tahun. Dokter juga ditanya apakah mereka telah memperlihatkan tanda-tanda ketidakmampuan emosional, seperti kecewa dan bingung jika orangtua mereka bercerai.

"Masalah psikologis di masa kanak-kanak dapat memberikan dampak negatif yang signifikan dalam kehidupan," ujar James Smith, salah satu penulis penelitian dan seorang ahli ekonomi senior di Rand Corporation.

Penelitian ini menemukan bahwa mereka yang menderita trauma cenderung kurang teliti dan tidak stabil dalam kehidupan pribadi.

Menurut para peneliti, dampak keuangan masalah psikologis bahkan lebih parah bagi anak yang lahir setelah tahun 1958. Kurang lebih pada usia 23 tahun yang mendapatkan pekerjaan pertamanya pada tahun 2008 akan mendapatkan penghasilan lebih rendah selama hidupnya dibandingkan orang yang tidak memiliki trauma.

Karena itulah, orangtua harus berpikir beribu kali untuk mengambil keputusan cerai. Jangan sampai anak menderita di kemudian hari. (pet)

Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Friday, March 29, 2013 4:46:37 PM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top