Pengalaman Anak Pengaruhi Perilaku Seksual

Posted By Rikaro.Ramadi Friday, March 29, 2013 6:16:19 AM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Friday, March 29, 2013 6:16:19 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436


Pengalaman masa kecil akan memengaruhi kehidupan anak di masa dewasa. Pengaruh ini menyusup ke dalam banyak aspek kehidupan, termasuk dalam membangun hubungan dan kehidupan seksual.

Konsultan seksual dan pengarang laris di New York Times, Ian Kerner, mengatakan bahwa perilaku seksual yang terbentuk saat ini sangat terkait dengan sosialisasi seksual yang diterima saat kecil. Memahami ini penting untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan intim yang sehat.

Dengan kata lain, Anda perlu belajar mengenai bagaimana Anda mengidentifikasi seks dan hubungan pada masa kanak-kanak dan remaja. Dan, bagaimana pengalaman itu memengaruhi cara berhubungan intim dan membangun jaringan di masa kini.

Dalam bukunya berjudul ‘Sex Smart’, Dr Aline Zoldbrod meneliti bagaimana masa kanak-kanak seseorang membentuk kehidupan seksualnya ketika dewasa. Ia membagi lingkungan keluarga menjadi tujuh tipe berdasarkan penanganan topik seksual. Berikut di antaranya:

1. Lingkungan ideal
Di keluarga yang bahagia, rasa penasaran tentang hal seksual tertangani dengan baik. Pertanyaan mengenai seks dijawab sesuai dengan umur, di mana privasi dan kemandirian dihormati dan secara aktif diajarkan.

2. Lingkungan yang menghindar
Dalam lingkungan ini, para orangtua menghindari perbicaraan mengenai seks dan menciptakan lingkungan di mana bertanya mengenai hal seksual adalah hal tabu. Hal ini sering terjadi pada keluarga di mana orangtua jarang mengungkapkan perasaan secara terbuka dengan anak mereka.

3. Lingkungan bebas
Pada keluarga ini, hal seksual dibicarakan dengan blak-blakan dan terlalu terbuka oleh orangtua. Kecenderungannya memberikan informasi seksual teralu dini. Pada keluarga demikian, orangtua umumnya aktif mendorong anak mengalaminya pada usia muda agar dapat menghargai konsekuensinya secara emosi dan psikologis.

4. Lingkungan negatif
Keluarga jenis ini mengharamkan seks sebelum nikah. Hal ini memicu tumbuhnya benih homoseksual, kebencian terhadap wanita dan masalah seksual lainnya di kemudian hari, termasuk takut bermasturbasi, ketidakmampuan mencapai orgasme pada wanita dan ejakulasi dini pada pria.

5.  Lingkungan yang kasar (secara seksual)
Keluarga ini dicirikan dengan kontak seksual yang tidak seharusnya antara orangtua dengan anak. Hal ini temasuk salah satu bentuk kekerasan seksual. Ini bisa memicu trauma, termasuk takut berhubungan intim. Mengatasi masalah keluarga yang melakukan kekerasan seksual membutuhkan waktu, tenaga dan konseling dari profesional. (Rudi Bun) (eh)

Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Friday, March 29, 2013 4:45:17 PM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top