Di Balik Kisah Kaum Aseksual

Posted By Rikaro.Ramadi Saturday, March 30, 2013 5:22:18 AM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Saturday, March 30, 2013 5:22:18 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436



VIVAnews - Seksualitas adalah isu penting bagi hampir semua orang, dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan. Seks dianggap sebagai alat perekat hubungan kasih, peningkat kepercayaan diri hingga solusi instan bagi ketidakbahagiaan.


Namun, di tengah arus utama ini ada sekelompok orang yang sama sekali tak memiliki dorongan alamiah tersebut, atau dikenal dengan aseksual. Adalah David Jay, penggagas AVEN (Asexual Visibility and Education Network), sebuah komunitas online untuk aseksual tengah bekerja keras mengubah pandangan tentang dorongan seksual.

Ketika Jay beranjak remaja, teman-teman sekolahnya mulai terobsesi dan tertarik secara fisik. Mereka membahas tentang bintang-bintang film yang menurut mereka cantik, juga tentang kencan pertama. Sementara Jay merasa tersisih dari perbincangan seputar hal itu.

“Saya benar-benar tidak mengerti saat itu,” kenangnya. Ia pun menambahkan, banyak dari kita yang beranggapan bahwa impuls-impuls seksual harus terjadi pada semua orang. Karena jika tidak, Anda akan beroleh cap "tidak beres".


Kendati seksualitas menjadi bagian penting dalam kehidupan, seks bukanlah hal pokok dari kehidupan David Jay. Aseksualitas yang dimilikinya membuatnya berkali-kali tampil sebagai narasumber.

Jay meluncurkan AVEN pada 2001, kala usianya 18 tahun. Semua beranjak dari keinginannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai aseksualitas. Sekaligus mendukung orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai aseksual.


“Saya menghabiskan empat tahun hidup dengan berjuang, menegaskan diri saya sendiri bahwa saya baik-baik saja,” ujarnya. Situs tersebut berhasil menjaring ribuan orang yang merasa teralienasi dari kisah-kisah maupun gambar-gambar seksual yang mendominasi budaya kita.

Pada dasarnya, aseksualitas didefinisikan dengan tidak adanya daya tarik seksual. Beberapa orang aseksual menjalin hubungan romantis, yang lain tidak. Sebagian periang, sebagian pemalu. Sebagian aktif secara seksual untuk menyenangkan pasangannya atau karena tekanan sosial, sebagian baru pernah mencium saja. Sebagian berpikir seks itu menjijikkan, sebagian berpikir seks itu indah untuk orang lain, namun mereka tidak punya keinginan untuk mencobanya.

Sosiologis Mark Carrigan dari Universitas Warwick mengatakan aseksual terdiri dari dua, yaitu aromantic asexual dan romantic asexual. Kaum aseksual yang aromantic tidak memiliki ketertarikan romantis, dalam banyak kasus mereka tidak suka disentuh, mereka tidak menginginkan semua jenis keintiman fisik.


Sedangkan, kaum aseksual yang romantic tidak memiliki ketertarikan seksual, tetapi mereka mengalami ketertarikan romantis. Misalnya, mereka melihat seseorang dan tidak merespon mereka secara seksual, namun mereka ingin berdekatan dengan orang tersebut, mengetahui hal-hal lebih dalam tentang mereka, berbagi apa saja dengan mereka.

Namun, kaum aseksual memiliki satu kesamaan: mereka tidak tertarik untuk berhubungan seks. Yang pasti, kaum aseksual tidak sama dengan orang selibat. Kaum aseksual tidak berhubungan seks bukan karena sengaja atau tidak sengaja; mereka memang sama sekali tidak tertarik dengan hubungan seks.

Seperti dilansir Therumpus.net, Jay mengatakan bahwa ia pernah berhubungan seks selama beberapa kali, bahkan mengalami orgasme. Ia juga bermasturbasi, seperti orang seksual maupun aseksual lainnya. Menurut Jay, sudah hal biasa jika kaum aseksual berhubungan seks dan menjalin hubungan dengan orang seksual di mana seks begitu penting. Namun, emosi tidak masuk di dalamnya. “Seks terasa lebih intelektual. Saya bagaikan masuk ke dalam latihan psikis yang abstrak, saya meninggalkan tubuh saya dan melihat seks sebagai tarian.”


Kaum aseksual, seperti homoseksual, terisolasi karena akar permasalahan mereka dianggap ‘kecil’ atau hanya berasal dari trauma dan pelecehan seksual. Jay meragukan teori itu. Baginya, seksualitas hanyalah satu lensa untuk memandang keintiman, tubuh, kekuasaan, sentuhan fisik, dan lain-lain.


Peneliti seksual budaya dari Universitas York di Canada Ela Przybylo, sejarah seksual dan hasrat seharusnya tak dianggap sebagai sesuatu yang absolut, tetapi sesuatu yang lebih cair. Bergantung bagaimana perasaan dan kecenderungan biologis orang bersangkutan. (Rieke Saraswati)


Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Saturday, March 30, 2013 8:44:03 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top