Penelitian: Anak Bukan Parameter Kepuasan

Posted By Rikaro.Ramadi Saturday, March 30, 2013 5:36:16 AM
Add to Favorites1
Author Message
Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Saturday, March 30, 2013 5:36:16 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436


Banyak pasangan yang menikah hanya untuk alasan mendapatkan keturunan. Hal ini pun secara sadar kita lakukan untuk memenuhi tuntutan lingkungan sosial yang telah membentuk kita dengan rasa kekurangan jika tidak memiliki keturunan.


Tapi coba kita tanyakan, sebenarnya apa yang mereka cari? Kebahagiaan atau sebuah makna kehidupan yang lebih dalam?

Menurut survei yang dilakukan pemerintah Inggris untuk  mengukur kebahagiaan seseorang, mereka mengaitkan kebahagiaan dengan keturunan.  Hasil tersebut mencatatkan bahwa memiliki
anak memang dapat meningkatkan rasa pengertian, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat. Anak juga membuat para orang tua lebih dapat bertahan hidup karena psikologis yang lebih baik.


Tetapi, penelitian ini juga menunjukkan bahwa pasangan-pasangan yang sudah memiliki buah hati, tidak lantas kehidupannya menjadi bahagia atau membuat mereka merasakan kepuasan dalam kehidupan.

"Meskipun kehadiran anak tidak mengubah kepuasan hidup secara
keseluruhan, tetapi mampu meningkatkan makna dan tujuan dalam
kehidupan masyarakat," seperti tertera pada laporan The Measuring
National Well-Being Programme
di Inggris yang dikutip Daily Mail.

Survei ini dilakukan dengan memberikan empat pertanyaan kepada 80 ribu responden. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mencakup, seberapa puas kehidupan mereka dan bagaimana kehidupan ini membuat mereka merasa bahagia.


Para responden juga diminta untuk memberikan jawaban tentang parameter yang membuat mereka merasa bahagia. Demikian juga dengan seberapa besar kecemasan mereka terhadap kehidupan yang dijalani.


Para responden diminta memberikan jawaban dengan skala perhitungan
dari satu hingga sepuluh. Hasilnya, pasangan yang telah memiliki keturunan menilai kepuasan dan kebahagiaan mereka tidak berbeda dari penilaian dari pasangan lain yang tidak memiliki anak.

Survei ini juga mengatakan bahwa pasangan menikah jauh lebih bahagia dibandingkan pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Sedangkan, nilai kebahagiaan terendah dimiliki orang-orang yang mengalami perceraian.

Rikaro.Ramadi Marked As Answer
 Posted Saturday, March 30, 2013 8:50:01 AM
Leluhur

Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)Leluhur - (170,105 reputation)
Group: Forum Members
Last Active: Friday, October 14, 2016 9:16:19 PM
Posts: 5,166, Visits: 30,436
setelah membaca tidak ada salahnya mamberi komentar agar lebih hidup :)

Reading This Topic

Expand / Collapse

Back To Top