135mm sebenarnya adalah focal length yang nanggung. Pada body crop, 135 menjadi 210mm lebih, Suatu jarak yang sebenarnya terlalu jauh untuk memotret model / penggunaan sehari-hari. Saat pertama kali memiliki Lensa ini, para pengguna body crop mungkin akan merasa kesulitan / tidak puas.
Namun jika lensa "210mm" ini digunakan pengguna bodi crop untuk motret yang agak jauh (wild life / konser), ternyata lensa ini lagi-lagi kurang bisa memenuhi perannya. Tidak adanya zoom bisa jadi mengakibatkan fotografer kesulitan untuk mengikuti gerakan objek foto. Apalagi jika fotografer tidak bisa leluasa bergerak.
Lensa ini juga tidak memiliki IS (Image Stabilizer) yang bisa dibilang cukup penting pada focal length diatas 100mm. Pada "210mm", Fotografer bisa jadi kesulitan menjaga kestabilan lensa ini pada pemotretan low light dan menyebabkan hasil yang terlalu blur.
Jadi Jika anda membutuhkan lensa untuk 3 keperluan di atas ini, saya justru menyarankan lensa EF 85mm F/1.8 USM atau 70-200mm f/4 (atau 2.8 tergantung dana anda), terutama yang versi IS.
Lantas kenapa saya memberikan rating penuh buat lensa ini ?
Karena pada beberapa situasi dan kondisi tertentu, lensa ini adalah salah satu lensa terbaik Canon.
Pada body full-frame, 135mm adalah jarak yang tepat untuk memotret model tanpa terlalu masuk ke dalam "personal space" si model tadi. Hasil gambar dari Lensa ini pun bisa dibilang luar biasa. Pada F/2, sebenarnya ketajamannya sudah termasuk sangat baik. Bokeh yang dihasilkan pun halus, circular (tidak memiliki garis lurus), dan creamy. Gunakan Lensa ini untuk memotret close up / extreme close (hanya wajah saja), dan anda akan melihat hasilnya yang luar biasa. Hasil ini akan menjadi lebih tajam lagi pada F/4.
Bukaan F/2 pada lensa ini memang sangatlah besar. Bahkan bukan tidak mungkin sebagian besar dari beberapa ratus foto pertama menggunakan lensa ini malah berantakan gara-gara misfokus. Pada beberapa kasus, saya bahkan mendapati beberapa karya portrait saya yg rusak gara-gara ujung hidung si model tajam, tapi matanya sudah blur (karena salah fokus di hidung si model). Saya menyarankan pengguna lensa ini untuk bereksperimen dan membiasakan diri dulu dengan lensa ini sebelum menggunakannya untuk hunting yg "serius". Apalagi jika hunting tersebut dilakukan pada malam hari / pencahayaan minim.
Bobot lensa ini cukup berat untuk lensa seukuran ini. Meskipun demikian, berat lensa ini membuatnya mantap untuk diangkat dan digunakan. Hal ini menjadi nilai tambah buat lensa ini pada perjalanan hunting yang lumayan panjang (seharian). Bayangkan saja jika anda harus mengangkat 70-200 F/2.8 IS seharian. Tentu anda akan lebih memilih lensa ini :D
Jika anda tipe orang yang mau beli lensa ini karena faktor "nampang", lensa ini memang tidak semencolok "si corong putih", tapi buat saya, justru ini menjadi satu nilai lebih juga. Penampilan lensa yang lebih "standar" ini seringkali meloloskan saya dari pungli yang mengejar "fotografer profesional". DI sisi lain, saya juga merasa lebih aman jika dibandingkan dengan membawa 70-200 apalagi pada daerah yang agak rawan.
Akhir kata, Lensa ini adalah lensa favorit yang selalu menempel di bodi DSLR saya. Jika jam terbang anda bersama lensa ini sudah mencukupi dan anda sudah belajar untuk mengkompensasi kekurangannya, Lensa ini akan menjadi salah satu teman terbaik anda. Lensa ini agak jarang dijual second bukan tanpa alasan, tapi karena biasanya fotografer yg sudah menggunakan lensa dalam waktu yg agak lama akan jatuh cinta kepadanya :D