X

Perbedaan Dropshipper dan Reseller: Kelebihan & Kekurangannya

Perbedaan Dropshipper dan Reseller perlu dipahami dengan baik termasuk kelebihan dan kekurangannya sebelum memutuskan sistem penjualan. Baik dropship ataupun reseller merupakan dua macam sistem penjualan yang cukup umum dalam dunia e-commerce atau online.

Masih banyak dari kita yang keliru dan beranggapan bahwa dropshipper dan reseller merupakan dua hal yang sama. Tentu saja kedua istilah ini mempunyai makna yang berbeda. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai perbedaan antara dropshipper dan reseller serta kelebihan dan kekurangannya.

Pengertian Dropshipper

Dropship dapat diartikan sebagai sistem penjualan dimana seseorang melakukan kegiatan penjualan barang serta mempromosikan suatu barang tanpa perlu melakukan penyetokan barang di gudang. Orang yang melakukan dropship disebut sebagai dropshipper.

Apabila ada orang yang hendak membeli barang, maka dropshipper akan menghubungi penjual atau supplier untuk menyiapkan dan mengirimkan barang langsung ke pembeli. Hal ini di satu sisi mempermudah dropshipper karena tidak perlu memikirkan urusan stok barang.

Pengertian Reseller

Reseller adalah seseorang yang menjual barang kembali, mempromosikannya, dan menyimpan stok barang di tempat tertentu seperti gudang. Berbeda dengan dropshipper, reseller perlu menghubungi pihak produsen atau distributor untuk membeli suatu barang, menyimpannya di gudang untuk kemudian dijual atau ditawarkan kepada pembeli.

Dapat dilihat secara sekilas disini, reseller memerlukan modal untuk membeli barang serta harus memikirkan tempat penyimpanan barang serta memikirkan stok barang di gudang.

Perbedaan Dropshipper dan Reseller

Melihat dari pengertian masing – masing dari dropshipper dan reseller, dapat dilihat perbedaan mendasar antara dropship dan reseller. Namun ada sejumlah hal lain yang membedakan keduanya, yaitu:

Stock Management

Seperti yang diuraikan dari pengertian dropship dan reseller, salah satu perbedaan utama keduanya adalah masalah stok barang. Dropshipper tidak perlu mengurusi stok barang dan hanya fokus pada mempromosikan dan menjual barang saja. Bila ada pembeli, dropshipper cukup menghubungi supplier untuk menyiapkan dan mengirimkan barang atas nama dropshipper.

Sebaliknya reseller perlu melakukan pembelian dan stok barang terlebih dahulu. Reseller juga perlu memikirkan tempat penyimpanan barang yang dibeli.

Cost

Dari segi biaya dapat dikatakan reseller membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan menjadi dropshipper. Reseller memerlukan modal lebih besar untuk membeli stok barang yang hendak dijual. Pembelian juga biasa dilakukan dalam jumlah besar agar biaya yang dikeluarkan lebih optimal.

Selain mengeluarkan biaya untuk membeli barang, beberapa reseller juga perlu memikirkan biaya sewa gudang untuk menyimpang barang yang sudah dibeli tersebut.

Profit

Dari segi keuntungan, dapat dikatakan reseller memiliki keuntungan yang lebih fleksibel dibandingkan dengan dropshipper. Bila menjadi dropshipper, biasanya akan mendapat komisi dari hasil penjualan, maka reseller dapat menentukan harga yang tinggi untuk barang yang dijual.

Reseller dapat menjual dengan harga tinggi karena biasanya reseller membeli dalam jumlah besar kepada produsen atau distributor. Atas hal ini biasanya reseller akan mendapat harga khusus yang jauh lebih murah. Selisih harga inilah yang akan dimaksimalkan reseller untuk menjadi profit penjualan.

Risiko

Dalam melakukan suatu usaha atau bisnis tentu ada risiko yang tidak bisa dihindari. Menjadi dropshipper maupun menjadi reseller tentu juga memiliki risiko masing – masing. Pada dropshipper, dapat dikatakan risikonya cukup kecil. Dropshipper tidak perlu pusing apabila barang yang dijualnya tidak laku.

Sebaliknya risiko reseller jauh lebih besar apabila barang yang dijualnya tidak laku. Reseller dapat mengalami stok yang menumpuk di gudang, tidak mencapai balik modal atas modal yang dikeluarkan untuk membeli barang dan masih perlu membayar biaya sewa gudang.

Demikian pengertian serta kelebihan dan kekurangan dari menjadi reseller ataupun dropshipper. Menjadi dropshipper dapat Anda coba apabila Anda belum memiliki modal yang besar dan baru hendak mencoba melakukan usaha jual beli. Apabila usaha Anda berkembang, Anda dapat memutuskan untuk beralih menjadi reseller.

Baladewa: Putra Baladewa Setiadji atau biasa dipanggil Putra memiliki pengalaman 5 tahun sebagai penulis di bidang gaya hidup (lifestyle). Lulusan sarjana komunikasi ini memulai karirnya sebagai penulis lepas di berbagai media massa. Selain berkecimpung sebagai penulis, Putra juga memiliki bisnis makanan ringan di kota Makassar. Menurutnya, bisnis makanan ringan sangat menjanjikan karena mudah dikembangkan dengan banyak ide inovasi. Jenis, menu, dan rasa bisa langsung disesuaikan dengan preferensi konsumen yang cepat berubah.
Related Post